Selasa, 01 Juni 2010

PENYAKIT-PENYAKIT DA’WAH

Ternyata penyakit itu tidak hanya terdapat ditubuh manusia saja, tapi didalam medan da’wah pun ada. Kalau kita mengetahui penyakit tersebut, ada dua hal yang bisa kita lakukan :
Pertama, kalau sekiranya kita terserang penyakit tersebut, tentulah kita akan segara mengobatinya. Kalau penyakit tersebut didiamkan bisa jadi akan semakin parah. Bahkan mengganggu organ tubuh lainnya yang masih sehat.
Kedua, kalau penyakit tersebut tidak menyerang kita, berarti kita harus melakukan tindakan preventif, bagaimana kiranya agar penyakit tersebut tidak menyerang kita (bisa kita hindari). PENYAKIT INFIRADIYAH (Menyendiri – singgle fighter) Tabiat da’wah Islamiah itu Syamillah Al Mutakamillah (menyeluruh dan sempurna). Sedangkan kita sebagai pribadi atau manusia itu mempunyai sifat dan kemampuan sifat dan kemampuan Juz’iyah Mahmudah (parsial serta terbatas). Persoalannya, bagaimana agar amanat da’wah yang menyeluruh serta sempurna itu bisa dipikul (oleh kita) yang punya kemampuan terbatas dan parsial ini. Maka tidak ada alternatif lain, kita harus bersatu dalam lembaga Islam. Karena dengan begitu, segala kekurangan dan keterbatasan kita akan tertanggulangi, dimana-mana segala potensi kita yang terbatas terhimpun menjadi satu, menjadi kekuatan pengerak sebagaimana halnya yang dikehendaki Allah di dalam Qur’an : “Dan siapkanlah olehmu (untuk menghadapi musuh) apa saja yang kamu mampui dari kekuatan dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang yang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya ………”. (8 : 60) Islam itu ibarat sebuah bangunan yang besar dan megah. Seorang insinyur bisa saja mendesain bentuk bangunan tersebut. Tetapi setelah dihadapkan pada kenyataan, bangunan tersebut tidak bisa didirikan sendirian, tetapi membutuhkan tenaga bantuan orang lain. Demikian juga halnya dengan kerja-kerja Islam. Hal itu tidak akan pernah terselenggara kalau sekiranya dilakukan dengan cara sendirian. Betapa banyaknya ayat-ayat Qur’an yang memerintahkan bagaimana agar kita sebagai umat untuk bersatu. Hal tersebut bisa dilihat diantaranya pada Qur’an : “Dan perpeganglah kamu sekalian dengan tali Allah, dan janganlah kamu berpisah-pisah dan berpecah belah”. (3 : 103) Di ayat lain : “Sesungguhnya Allah cinta kepada orang-orang yang berperang dijalannya dengan barisan seolah-olah mereka satu bangunan yang kokoh”. (61 : 4) Perkataan sahabat Nabi, Ali r.a. : “Bahwa kebatilan yang terkoordinir dengan rapi akan mampu mengalahkan kebenaran yang tidak terkoordinir dengan rapi”

Minggu, 21 Desember 2008

Data, Sumber Penting Marketing Sekolah

Siapa bilang sekolah “idiologis” tak bisa laris? Banyak sekolah-sekolah ideologis tak dikenal karena tak bisa memasarkannya Konsumen pendidikan yang cenderung instan dan pragmatis, mengakibatkan 'sekolah ideologis' semakin tidak diminati. Apalagi, jika kualitas akademik jeblok, dapat diprediksi sekolah tersebut tak berumur lama. Agar berkembang, maka diperlukan kualitas akademik dan strategi marketing yang jitu dan tepat sasaran. Hal ini disampaikan penulis buku-buku parenting dan psikologi, Muhammad Fauzil Adhim pada Workshop “Menjadi Sekolah Ideologis yang Laris” di Hotel Fortuna Surabaya Ahad, (21/12) kemarin. Acara yang cukup menarik ini dihadiri 43 peserta dari beberapa daerah di Jawa Timur dan Makassar. Mereka berasal dari lembaga pendidikan Islam. Antusiasme peserta terlihat begitu tinggi sehingga Workshop berjalan hidup. Fauzil, dalam materinya mengatakan. “Dalam memasarkan sekolah, harus memiliki positioning dan targeting yang jelas. Sebab, dua hal tersebut dapat memudahkan sekolah dalam melakukan promosi secara kreatif, efektif dan efisien.” “Sebelum merumuskan positioning, sekolah harus menentukan targeting yang akan dibidik,” lanjut dia. Tidak hanya itu, dalam memasarkan sekolah, menurut Fauzil harus memiliki data yang cukup. Sebab, data berguna untuk memahami target pasar yang akan dibidik. Data bisa bersumber dari wali murid yang tercantum di formulir pendaftaran. Dari database itulah, kemudian sekolah bisa menganilisis dan memahami pergeseran interest, tren hidup, orientasi beragama dan aspek psikografis konsumen (baca:wali murid). Metode ini, menurut Fauzil berbiaya rendah, namun hasilnya dahsyat (low budget high impact). Namun, tidak berhenti disitu, menurutnya perlu diadakan survey, observasi, dan analisis SWOT dengan dilengkapi data sekunder. Baru setelah itu, dapat dilakukan penetrasi dan pengembangan pasar dan produk sekolah dan diversifikasi pelayanan. “Hal itu, bisa diolah hingga menjadi perencanaan pemasaran lemabaga,” tutur penulis yang juga pengajar mata kuliah psikologi marketing ini. Budi Yuwono, pembicara kedua juga menjelaskan. “Agar pemasaran bisa dipublish secara luas dan memiliki magnitude yang besar, maka harus diiklankan di media. Menurut Budi, “Media ibarat senjata api, kreatifitas adalah pelurunya, pesan promosi adalah amunisi yang siap meledak dan meracuni masa.” Oleh karena itu, sekolah harus memanfaatkan media dengan pintar. Setidaknya menurut dia, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, media habit. Sekolah harus melihat kebiasaan konsumen dalam mengkonsumsi media, TV, radio, Koran atau Majalah. Kedua, produk yang diiklankan harus sesuai dengan media, baik dari sisi konten dan visi. Ketiga, message. Untuk media seperti spanduk dan banner harus dipilih kata-kata yang singkat dan menarik. Keempat budget, jika dana minim pilihlah media sekunder yang murah. Budi menambahkan, iklan harus dikemas sebagaimana konsep advertising SUPER-A. Simple (sederhana dapat dimengerti sekali lihat), unexpected, entertaining (menghibur), relevant (sesuai), dan acceptable (dapat diterima). Hidayatullah.com