Minggu, 21 Desember 2008

Data, Sumber Penting Marketing Sekolah

Siapa bilang sekolah “idiologis” tak bisa laris? Banyak sekolah-sekolah ideologis tak dikenal karena tak bisa memasarkannya Konsumen pendidikan yang cenderung instan dan pragmatis, mengakibatkan 'sekolah ideologis' semakin tidak diminati. Apalagi, jika kualitas akademik jeblok, dapat diprediksi sekolah tersebut tak berumur lama. Agar berkembang, maka diperlukan kualitas akademik dan strategi marketing yang jitu dan tepat sasaran. Hal ini disampaikan penulis buku-buku parenting dan psikologi, Muhammad Fauzil Adhim pada Workshop “Menjadi Sekolah Ideologis yang Laris” di Hotel Fortuna Surabaya Ahad, (21/12) kemarin. Acara yang cukup menarik ini dihadiri 43 peserta dari beberapa daerah di Jawa Timur dan Makassar. Mereka berasal dari lembaga pendidikan Islam. Antusiasme peserta terlihat begitu tinggi sehingga Workshop berjalan hidup. Fauzil, dalam materinya mengatakan. “Dalam memasarkan sekolah, harus memiliki positioning dan targeting yang jelas. Sebab, dua hal tersebut dapat memudahkan sekolah dalam melakukan promosi secara kreatif, efektif dan efisien.” “Sebelum merumuskan positioning, sekolah harus menentukan targeting yang akan dibidik,” lanjut dia. Tidak hanya itu, dalam memasarkan sekolah, menurut Fauzil harus memiliki data yang cukup. Sebab, data berguna untuk memahami target pasar yang akan dibidik. Data bisa bersumber dari wali murid yang tercantum di formulir pendaftaran. Dari database itulah, kemudian sekolah bisa menganilisis dan memahami pergeseran interest, tren hidup, orientasi beragama dan aspek psikografis konsumen (baca:wali murid). Metode ini, menurut Fauzil berbiaya rendah, namun hasilnya dahsyat (low budget high impact). Namun, tidak berhenti disitu, menurutnya perlu diadakan survey, observasi, dan analisis SWOT dengan dilengkapi data sekunder. Baru setelah itu, dapat dilakukan penetrasi dan pengembangan pasar dan produk sekolah dan diversifikasi pelayanan. “Hal itu, bisa diolah hingga menjadi perencanaan pemasaran lemabaga,” tutur penulis yang juga pengajar mata kuliah psikologi marketing ini. Budi Yuwono, pembicara kedua juga menjelaskan. “Agar pemasaran bisa dipublish secara luas dan memiliki magnitude yang besar, maka harus diiklankan di media. Menurut Budi, “Media ibarat senjata api, kreatifitas adalah pelurunya, pesan promosi adalah amunisi yang siap meledak dan meracuni masa.” Oleh karena itu, sekolah harus memanfaatkan media dengan pintar. Setidaknya menurut dia, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, media habit. Sekolah harus melihat kebiasaan konsumen dalam mengkonsumsi media, TV, radio, Koran atau Majalah. Kedua, produk yang diiklankan harus sesuai dengan media, baik dari sisi konten dan visi. Ketiga, message. Untuk media seperti spanduk dan banner harus dipilih kata-kata yang singkat dan menarik. Keempat budget, jika dana minim pilihlah media sekunder yang murah. Budi menambahkan, iklan harus dikemas sebagaimana konsep advertising SUPER-A. Simple (sederhana dapat dimengerti sekali lihat), unexpected, entertaining (menghibur), relevant (sesuai), dan acceptable (dapat diterima). Hidayatullah.com

1 komentar:

  1. Untuk menjadikan sesuatu itu menjadi Idealis adalah cita2 yang sangat luhur..tetapi kita sebagai mahluk yang banyak memiliki kekurangan hanya bisa berusaha sampai titik yang telah Digariskan...

    BalasHapus